Kamis, 03 September 2009

Mbah Lerik : Tumenggung Kerto Waseso

Makam kuna yang terdapat di Desa Dempel Kecamatan Kalibawang selama ini dikunjungi banyak peziarah. Tidak terbatas orang-orang Wonosobo maupun kota di Jateng. Tak sedikit pengunjung dari Banjarmasin dan Lampung yang datang. Konon yang disemayamkan adalah tokoh terkenal bernama Tumenggung Kerto Waseso atau disebut juga Mbah Lerik.

Seperti halnya tokoh-tokoh sakti masa lampau, Tumenggung Kerto Waseso juga seorang pejuang pada zaman Pangeran Diponegoro. Menurut warga setempat, ia masih keturunan bangsawan Keraton Jogja. Semasa perang melawan penjajah Belanda, Mbah Lerik bergerilya hingga ke Wonosobo.

Kemudian membuka perkampungan di Desa Dempel. Tokoh ini cukup disegani karena kesaktiannya yang luar biasa. Sampai meninggal pun, makamnya banyak diziarahi orang. Sebagai tempat yang dianggap mujarab untuk berdoa agar hajatnya terkabul.

Salah satu tokoh masyarakat setempat Muhrozi mengatakan, sejak dulu makam Mbah Lerik tak pernah sepi peziarah. Hampir tiap hari mereka datang, berdoa memohonkan apa yang menjadi keinginannya. “Selain dari Jawa Tengah, Jawa Timur ada juga yang dari luar Jawa. Kadang ziarahnya sampai berhari-hari. Di makam, mereka mengaji, membaca tahlil dan memanjatkan doa,”ujarnya didamping anaknya Mahfudz.

Sepengetahuan Muhrozi tidak ada keanehan berasal dari makam. Hanya saja, kalau doa hampir terkabul, muncul godaan-godaan. Dan itu hanya dirasakan oleh yang bersangkutan. Peziarah lebih suka datang pada malam hari. Lebih sunyi, doa lebih khusuk dan terasa dekat dengan Maha Pencipta, begitu katanya.

Makam Mbah Lerik terletak di dekat kompleks kuburan desa. Namun agak terpisah dari makam lain. Bangunan makam berupa papan kayu sederhana. Warga setempat yang membangun cungkupnya. Jalan menuju makam tidak terlalu lebar berupa semen.

Di sebelah makam, berupa tanah kosong yang rencananya akan dibangun semacam peristirahatan untuk para peziarah. Mereka dapat menginap di situ, memasak maupun mengurus keperluan sehari-hari. Tidak sedikit yang menginap beberapa hari di makam. Bahkan pernah ada peziarah hampir sebulan penuh berada di makam pada bulan puasa lalu.

Warga setempat semula tidak menaruh curiga dengan kehadiran orang yang identitasnya tak diketahui secara pasti tersebut. Kepada warga mengaku datang sendirian, anehnya kalau malam hari ada orang yang datang. Masyarakat semakin curiga, setiap kali pergi ke pasar atau membeli keperluan ke luar desa, mengenakan pakaian biasa dan selalu bertopi. Padahal sehari-hari selama berada di makam, mengenakan surban. Apalagi waktu itu, terdengar santer adanya teroris, akhirnya warga memutuskan bertindak. Sebelum dilakukan, pria itu sudah kabur.

“Orang-orang dari Jawa Timur kalau berziarah sampai berhari-hari. Mengaji dan berdoa di makam. Diharapkan dengan adanya semacam fasilitas beristirahat ini mereka akan lebih nyaman di sini,”tambah Mahfudz.

Menjelang pilihan kepala desa, banyak para calon kades yang berziarah. Bahkan para calon bupati pun tidak melewatkan diri mengunjungi makam. Ditegaskan Muhrozi, para peziarah dilarang untuk menyembah atau memohon pada makam. Berziarah hanya sebagai sarana. Tentu saja permohonan ditujukan pada Sang Pencipta.

Potongan Rambut Timbulkan Gempa

Kesaktian Mbah Lerik sangat dikenal seantero Wonosobo kala itu. Disebut Lerik, karena begitu lahir kulitnya seperti bayi. Tetapi layaknya kulit anak 10 tahun. Menurut cerita, saat masih bermukim di Keraton Jogjakarta, kesaktian Mbah Lerik diujicoba. Dia diminta bertempur dengan 7 orang prajurit seorang diri. Dengan segala kesaktiannya, 7 prajurit bertekuk lutut.

Seluruh badannya mengandung tuah kesaktian. Ia memiliki rambut panjang terurai dan konon berkuku sepanjang 2 meter. “Rambutnya tidak mempan oleh gunting atau senjata tajam. Sehingga terus memanjang terurai. Dan tidak ada yang berani memotongnya,”ungkap Muhrozi.

Masih menurut cerita Muhrozi, suatu kali, Mbah Lerik diminta datang ke Kramatan, Magelang ke rumah salah satu anaknya. Rambut dan kuku Mbah Lerik akan dipotong. Dengan segala daya upaya rambut dan kukunya dapat dipangkas. Begitu potongan rambut jatuh ke tanah, menimbulkan gempa bumi 3 hari berturut-turut tanpa henti. Begitu juga saat potongan kukunya jatuh, terdengar seperti bunyi linggis jatuh ke lantai semen, bergerincing sangat keras. Potongan rambut dan kuku ini dikubur di Kramatan, Magelang.

Itu salah satu gambaran betapa sakti mandraguna Mbah Lerik. Ilmu tinggi dan budi pekerti luhur yang membuatnya disegani. Setelah membuka pedesaan Dempel, Mbah Lerik diangkat menjadi sesepuh. Ia memiliki 14 anak. Sepuluh anak laki-laki dan 4 perempuan. Bahkan sampai sekarang, anak keturunannya masih hidup di luar Kota Wonosobo.

Dikatakan Muhrozin, sebelum dirinya yang sering disebut juru kunci makam adalah mendiang ayahnya, Abdul Rauf. Dulu setiap peziarah harus melalui juru kunci. Sekarang, kata dia, terserah pendatang. Bisa langsung berziarah ke makam atau juga melalui dirinya.

Untuk menelusuri secara pasti silsilah Mbah Lerik cukup sulit. Menurut Untung, salah satu warga setempat, harus melakukan semedi dan mengendapkan pikiran. Itupun tak hanya sekali atau dua kali. Sebab, harus melakukan kontak batin dengan mendiang.

Dia sendiri ketika dimintai keterangan tentang Tumenggung Kerto Waseso ini agak keberatan. “Sebenarnya harus meminta izin terlebih dulu kepada Mbah Buyut (Kyai Lerik, red). Tanpa seizin beliau saya tidak berani,”cetusnya.

Ketika ditanya kenapa Tumenggung Kerto Waseso dijuluki Mbah Lerik, Untung berdiam diri sebentar. Lantas meminta maaf tidak bisa menjelaskan lebih detil. Ia tak dizinkan untuk memberi keterangan lebih rinci. Pria ini mengaku sekarang tengah dihukum selama 10 tahun oleh Mbah Lerik, tidak dizinkan keluar dari desa. Sekarang hukuman tinggal setahun lagi. Selama itu pula, hanya di rumah bertani. Tidak berani pergi ke desa lain maupun turun ke kota.

Apabila makam Mbah Lerik akan dibangun agar lebih representatif untuk peziarah, kata Untung juga harus meminta izin. Dia tidak berani melanggar apapun yang telah menjadi kehendak sesepuh desa itu. (Sumber:lis Jawa Pos)

Seja o primeiro a comentar

Poskan Komentar

Jatiningjati: different taste more idealism © 2008 Template by Dicas Blogger.

TOPO